REVOLUSI POLANDIA 1980-1981

clip_image002

Tahun 1980, aksi berjuta buruh Polandia jelas mendemonstrasikan betapa cepat perubahan atas segala sesuatunya. Tahun itu menjadi saksi kelahiran suatu gerakan buruh di Polandia bernama Solidarnosc, atau Solidaritas. Selama beberapa bulan, puluhan juta buruh bergabung dan meletuskan revolusi.

Sebagaimana yang terjadi di semua perlawanan buruh, selama enam belas bulan dari Agustus 1980 hingga Desember 1981, terdapat suatu persemian kreatifitas yang sebelumnya direpresi dan dilarang di saat-saat “normal” serta juga terdapat rasa gembira dan optimisme yang menyebar luas.

Galangan Kapal Lenin yang merupakan tempat kelahiran perjuangan, dijadikan tempat penyelenggaraan konser musik Chopin dan komposer musik klasik lain serta pementasan aktor-aktor lokal. Buletin-buletin mogok dibanjiri dengan sajak-sajak yang ditulis oleh buruh dan banyak tempat kerja yang menghiasi gerbangnya dengan bunga-bunga.

Andrej Wajda, seorang sutradara mengunjungi Galangan Kapal Lenin dan menyampaikan kesannya kepada para editor buletin pemogokan:

“Menyentuh, memukau, terasa seperti sesuatu yang luhur dan luarbiasa. Aku merasa bahwa aku tengah menyaksikan suatu fragmen sejarah..kau bisa merasakannya, melihatnya, menyentuhnya.”

Agustus 1980—setelah enam minggu dimana tidak ada satu hari pun tanpa suatu pemogokan di Polandia—buruh-buruh Gdansk mengambil alih sistem transportasi publik. Trem-trem dan bus-bus memasang plakat bertuliskan “Kami juga mogok tapi kami bekerja untuk membuat hidupmu lebih mudah.”

Suatu komite yang disebut MKS, dengan perwakilan-perwakilan dari setidaknya 250 tempat kerja di sekitar kota, mengorganisir suplai makanan. Merekia mulai mengawasi sistem kesehatan dan sebagai bagian memelihara tata tertib, mereka juga melarang penjualan alkohol di kota.

Anna Walentynowics, yang kriminalisasinya turut memicu gelombang mogok, adalah seorang sopir mobil derek sekaligus aktivis buruh militan kawakan di galangan kapal Gdansk. Dalam kesaksiannya dia mengatakan:

“Kami menerbitkan ijin-ijin bagi toko-toko makanan untuk dibuka kembali. Lori-lori pengantar masih dioperasikan, dan begitu pula dengan pabrik-pabrik roti. Pabrik pengalengan juga terus berjalan sehingga stok-stok ikan tidak akan terbuang. Pabrik yang memproduksi kaleng juga harus bekerja, begitupula transportasi. Para sopir mengenakan ban lengan warna merah dan putih serta bendera-bendera dikibarkan diluar pertokoan. Sebagaimana yang dikatakan Joanna Duda-Gwiazda, ‘Kita telah merebut kekuasaan di kota ini, lebih baik kita mulai mengorganisir segala sesuatunya.”

Para penguasa Polandia mengklaim kekuasaannya atas nama Marx dan Komunisme. Tampaknya buruh-buruh menerima ideologi ini—sebagaimana buruh-buruh di Barat dan Australia yang tampaknya juga didominasi oleh propaganda media.

Jadi bagaimana mungkin perlawanan ini, yang muncul berkali-kali dari kota ke kota, bisa terjadi? Sebenarnya berlawanan dengan kepercayaan yang menyebar luas baik di Timur maupun Barat, Polandia sebenarnya merupakan suatu masyarakat kelas, suatu bentuk kapitalisme negara birokratis yang bertujuan untuk mencari laba bukan untuk memenuhi kebutuhan umat manusia.

clip_image003clip_image004clip_image005clip_image008

clip_image006clip_image011

clip_image010clip_image013

Karl Marx pernah bertanya “siapa yang mendidik sang pendidik” kalau buruh perlu dididik untuk membuat suatu revolusi. Dia menyatakan bahwa karena kapitalisme terus-menerus terperosok ke dalam krisis dan tidak bisa memenuhi kebutuhan manusia, buruh dan kaum tertindas akan terus didorong untuk melawan para penguasa mereka demi memenangkan cara hidup yang lebih baik. Terkadang pertempuran ini berlangsung terbuka, terkadang tidak tampak sama sekali.

Dalam perjuangan-perjuangan inilah, baik perjuangan besar maupun kecl. Buruh perlu belajar pentingnya solidaritas. Mereka melihat bagaimana cara kerja tatanan masyarakat dengan lebih jelas, mereka juga mengetahui potensi-potensi yang mereka miliki sebagai kelas buruh untuk mengubah tatanan masyarakat. Perjuangan tidak saja “mendidik” buruh namun juga kita semua.

Tahun 1978 suatu kelompok akademisi, pakar, dan manajer yang mendapatkan persetujuan rezim mengindikasikan bahwasanya suatu krisis tengah terjadi di Polandia. Mereka menulis “kecemburuan dan kedengkian yang telah menumpuk dan menggumpal di benak publik.”

Namun tidak seorangpun, termasuk mereka yang terlibat dalam kerja oposisi ilegal, siap menyambut perlawanan yang meletus setelah rezim mengumumkan kenaikan harga barang-barang pada 1 Juli 1980. Rezim menganggap bahwa mereka bisa mengatur untuk menghindari pemogokan-pemogokan dengan cara memberikan kenaikan upah pada seksi-seksi terkuat dari kelas buruh.

Bagaimanapun juga kali ini protes-protes menentang kenaikan harga pangan memicu bangkitnya gerakan revolusioner yang membentuk suatu visi tentang masyarakat bebas.

Suatu kelompok kecil buruh berhimpun di sekitar suatu koran bernama Buruh Pelabuhan, dengan sejumlah intelektual dalam Komite Pertahanan Buruh (KOR).

Mereka merespon kriminalisasi terhadap Anna Walentyonowicz dengan cara mengorganisir pendudukan galangan kapal Lenin dan menyerukan pemogokan di seluruh penjuru Gdansk. Suatu komite mogok yang dipilih oleh para buruh kemudian merumuskan tuntutan-tuntutan atas suatu serikat buruh yang bebas, kebebasan informasi dan berpendapat, bebaskan tahanan politik dan pekerjakan kembali buruh-buruh yang dipecat.

Saat tiga hari kemudian mereka ditawari suatu persetujuan dan pertimbangan untuk kembali kerja, buruh-buruh transporrasi menyatakan bahwa mereka mendukung para buruh galangan kapal dan memutuskan tidak merima apapun. Para sopir trem yang bersolidaritas dengan gerakan secara keseluruhan juga menolak kenaikan upah, yang nilainya terbesar dalam seumur hidup mereka, yang pernah ditawarkan. Maka berlanjutlah pemogokan galangan kapal.

Kemungkinan Sosialisme

Ini merupakan permulaan gerakan massa yang disebut Solidarnosc. Gdansk merupakan tempat kelahiran MKS—Komite Mogok Antar Perusahaan—serta organisasi-organisasi serupa di seluruh negeri.

Organisasi ini bukan produk teori apapun. Organisasi ini muncul murni dari kebutuhan buruh untuk mengorganisir dan mengonsolidasikan perjuangan, untuk menyediakan pangan dan menyebarkan informasi untuk menangkal misinformasi dan ancaman-ancaman rezim.

Buruh-buruh Polandia membentuk organisasi yang sama yang pernah muncul di Rusia pada tahun 1905 dan 1917, serta di setiap saat buruh menantang hak para penguasa untuk berkuasa—dewan-dewan buruh, yang menyediakan landasan tatanan masyarakat baru untuk dibangun.

Pengalaman praktis perjuangan buruh sendiri inilah yang menunjukkan kemungkinan sosialisme, bukan teori akademis kering yang seolah-olah dibayangkan dalam kepala Marx.

Seluruh penjuru Polandia turut dilanda pengalaman Gdansk.

Buruh-buruh tertentu mendapatkan kenaikan upah 20% dengan begitu mudah. Namun hal ini memicu buruh-buruh lain untuk mogok juga, termasuk sekitar 14.000 buruh traktor Ursus di Warsawa. Pemogokan-pemogokan menjalar ke stasiun-stasiun trem, pabrik-pabrik baja, pabrik-pabrik kaca, dan pabrik-pabrik tekstil yang melanda satu kota ke kota lain hingga daerah pertambangan Silesia.

Kaum perempuan di lima pabrik tekstil di Zyrardow meluaskan tuntutan-tuntutan mereka dari kenaikan upah ke hal-hal seperti pemotongan jumlah majikan di pemintalan. Suatu tuntutan merakyat menuntut tunjangan keluarga yang sama besarnya dengan yang dinikmati polisi keamanan.

Sedangkan di Lublin, buruh-buruh menduduki pabrik-pabrik truk serta memulai suatu pola menuntut kenaikan upah bagi mereka yang upahnya paling rendah. Mereka juga menambahkan tuntutan seperti penutupan toko-toko “komersil” yang melayani orang kaya serta hak kebebasan pers ke dalam daftar tuntutan mereka yang semakin banyak.

Pemogokan empat hari dikobarkan oleh para buruh rel dan kereta yang memblokade jalur utama ke Rusia dengan lokomotif-lokomotif. Mereka menuntut hari libur di hari sabtu (dimana mereka tidak perlu bekerja) serta agar serikat-serikat buruh “tidak menerima perintah dari atas.”

Pemogokan menjalar ke sopir-sopir bus, buruh-buruh pabrik kimia, pabrik roti, serta rumah sakit, dan sebagainya. Saat buruh-buruh dari Siedlce dikirim untuk mengambilalih pekerjaan buruh-buruh rel dan kereta yang mogok, mereka langsung balik pulang saat mendengar isu pemogokan demikian.

Saat koran setempat mengancam akan terjadi invasi Rusia (ancaman umum yang muncul saat buruh-buruh berontak di Eropa Timur), buruh-buruh percetakan sontak langsung menghentikan penerbitannya.

Metode-metode perjuangan mencerminkan pelajaran-pelajaran yang mereka pelajari dari perlawanan-perlawanan lebih awal. Alih-alih membuat kerusuhan di jalanan dimana mereka bisa ditembaki dengan mudah, aksi-aksi pendudukan jadi lebih populer. Hal ini pada gilirannya melahirkan psat-pusat pengorganisiran yang hidup di tempat-tempat kerja.

Peristiwa-peristiwa serupa terjadi di seluruh Polandia. Pertengahan Oktober saja sudah terjadi pemogokan di 4.800 perusahaan terpisah dan jumlahnya masih terus meningkat.

Teknologi modern yang dulunya digunakan untuk menindas buruh akhirnya direbut dan digunakan buruh untuk kepentingan perjuangannya. Buruh-buruh di pabrik-pabrik besar bersikeras bahwa negosiasi-negosiasi antara perwakilan-perwakilan mereka dengan para manajer harus disiarkan melalui sistem interkom. Tuntutan keterbukaan ini bahkan meningkat lebih jauh di Bielsko-Biala pada Januari 1981, dimana negosiasi-negosiasi disambungkan melalui jaringan telepon nasional!

Saat seruan demonstrasi muncul, suatu guyonan beredar di Warsawa: “Mereka yang tidak mogok tidak boleh makan daging”—suatu referensi terhadap daging yang didistribusikan ke pusat-pusat militan.

Kepercayaan diri kelas buruh yang semakin tumbuh serta ketakutan dan kesewenangan yang semakin menyebar diantara kelas penguasa, tercerminkan dalam fakta bahwa buruh-buruh mengeluarkan para pasien rumah sakit jiwa dan kasur-kasur mereka diisi dengan para birokrat.

Sebagaimana yang dikatakan Marx, kelas buruh telah menjadi pemimpin bangsa. Terinspirasi Solidarnosc, aksi-aksi pendudukan mahasiswa melanda negeri dan tuntutan-tuntutan untuk mengakui serikat-serikat mahasiswa independen muncul, Solidarnosc Mahasiswa.

Para tahanan di kebanyakan penjara mengorganisir kelompok-kelompok Solidarnosc dan berunjukrasa menuntut kondisi-kondisi yang lebih baik. Kelompok-kelompok lain yang juga bergerak adalah, para penghuni rumah susun, kaum ekologis, filatelis, jurnalis, seniman, aktor, dan penulis.

Antrian diluar pertokoan kemudian mendirikan sistem swa-kelola untuk memprioritaskan kaum lanjut usia dan orang yang memiliki anak-anak serta menjalankan negosiasi-negosiasi dengan para manajer untuk perlakuan yang adil.

Upaya untuk mengorganisir suatu Solidarnosc tani kemudian menjadi titik balik perkembangan. Maret 1981, di Bydgoszcz, aktivis-aktivis Solidarnosc dipukuli sampai babak-belur oleh 200 polisi dan 27 diantaranya sampai dilarikan ke rumah sakit setelah suatu pendudukan tampaknya hampir memenangkan hak bagi Solidarnosc Tani.

Ini merupakan kali pertama pecahnya kekerasan dalam kebangkitan revolusioner, meskipun hal ini bukan yang terakhir—semua ini muncul bukan dari gerakan buruh yang mengarah pada pembangunan tatanan dunia bebas yang baru namun dari mereka yang gelap mata frustasi ingin mempertahankan sistem membusuk yang masih berlaku.

Rezim penguasa menghantam gerakan pembebasan inspiratif dan kreatif ini pada Desember 1981. Bagaimanapun juga visi yang dimunculkan oleh kelas buruh Polandia tetap merupakan suatu wasiat yang menunjukkan kemungkinan sosialisme dan mengonfirmasikan padangan Marxis bahwasanya kelas buruh bisa dan harus memimpin perjuangan yang diperlukan.

Buruh-buruh Polandia menghabiskan Natal 1981 dengan berkabung meratapi ratusan orang yang tewas ribuan orang yang dipenjara, yang mana semuanya adalah orang yang mereka sayangi, namun berakhir dipukuli, ditembaki, dan dipenjara oleh para polisi dan tentara.

Gerakan ini hancur. Namun adakah kemungkinan mereka menang sebelumnya?

Tidak pernah ada jaminan namun Solidarnosc bisa saja meningkatkan kesempatan-kesempatan mereka untuk menyelamatkan diri dari represi dan pemburuan rezim.

Saat para aktivis mereka dipukuli di Bydgoszcz pada bulan Maret kalau saja Solidarnosc terus menjalankan pemogokan total yang sebelumnya mereka rencanakan maka mereka sudah pasti akan mengirimkan pesan keras kepada rezim penguasa bahwa mereka tidak bisa diintimidasi. Pemogokan akan semakin menumbuhkan rasa kepercayaan diri dan mengembangkan organisasi di akar rumput.

Namun sebaliknya, akibat terpengaruh gagasan revolusi “membatasi dirinya sendiri”, para pimpinan takut bergerak terlalu jauh dan kemudian malah menerima kesepakatan busuk untuk membatalkan pemogokan yang sebelumnya sudah direncanakan dan disepakati. Tes pertama ini berakibat pada kekecewaan yang meluas diantara buruh dan menurunnya tingkat aktivitas dan komitmen.

Para pimpinan yakin bahwa mereka hanya sekedar perlu untuk mereformasi Partai Komunis yang berkuasa dan mengabaikan kekuasaan badan-badan bersenjata negara serta peran Gereja.

Jadi saat para prajurit yang jadi prajurit karena wajib militer (sebagian besar dari keluarga buruh dan tani) menolak masa perpanjangan, Solidarnosc tidak memobilisasi diri untuk mendukung mereka. Mereka juga tidak memobilisasi dukungan dan dprongan saat polisi menuntut Solidarnosc mereka sendiri. Peluang-peluang vital untuk melemahkan kekuatan para perwira angkatan bersenjata lewat sudah. Saat kemudian mereka diperintahkan untuk menembak, perintah itu kemudian ditaati.

Tak satupun kata yang mengkritisi atau memperingatkan peran Gereja yang bermanuver merayu para anggota Solidarnosc sembari di saat yang bersamaan membela rezim penguasa. Saat bentrokan muncul, pihak Gereja malah menyeru jangan melawan “saudara-saudara Polandia” mereka malah semakin memperkeruh kebingungan.

Kalau saja Solidarnosc lebih siap menghadapi benturan maka para buruh akan semakin yakin untuk berjuang dan berlawan—dan ya, memang masih akan ada pertumpahan darah. Bagaimanapun juga, kalau tentara dan polisi terpecah, maka tekad di pihak buruh akan memainkan peranan penting dalam mengubah perimbangan kekuatan, serta kemenangan Solidarnosc pasti tetap akan memungkinkan.

Perlunya Organisasi Revolusioner

Saat revolusi tampak tidak akan terjadi, proyek membangun suatu organisasi sosialis tampaknya tidak masuk akal bagi banyak orang.

Namun seandainya di tahun 1981 ada suatu organisasi revolusioner yang cukup besar di Barat, maka organisasi itu akan bisa mempengaruhi hasil yang terjadi. Suatu minoritas signifikan para aktivis menentang para pimpinannya. Namun mereka masih meraba-raba dalam gelap untuk mencara pegangan dan pemahaman teori agar bisa mendapat kepercayaan dan kemampuan untuk mengorganisir dalam Solidarnosc agar bisa membangun militansi yang berkali-kali ditunjukkan oleh para anggotanya.

Acap kali insting buruh akan mendorongnya untuk membalas dengan aksi-aksi pemogokan lagi dan lebih banyak aksi radikal saat mereka menghadapi ancaman dari rezim penguasa. Di pucuk pimpinan Solidarnosc, mereka dikelilingi oleh para “penasehat” yang seharusnya lebih terdidik dan lebih bijak dari buruh pada umumnya namun kenyataannya malah menyatakan untuk mundur.

Kaum intelektual di KOR melaporkan betapa kagetnya mereka saat menyaksikan militansi dan radikalisme buruh yang muncul berkali-kali.

Keberadaan suatu organisasi revolusioner yang bisa mendorong para buruh untuk mempercayai insting alami mereka alih-alih para pimpinan dan intelektual yang percaya bahwa tatanan masyarakat totaliter bisa disembuhkan, jelas akan menyumbang pengaruh dan hasil yang berbeda.

Seorang revolusioner sosialis di Ingris, Colin Barker, menyimpulkan tragedi kegagalan kaum kiri di Barat:

“Kekuatan kita terlalu kecil, suara kita terlalu lemah, kita tidak mampu memberikan dukungan material dan intelektual yang dibutuhkan oleh para buruh Polandia…Kita tidak memimpin satupun pemogokan di belahan dunia manapun untuk mendukung Solidarnosc; kita tidak bisa menghajar satupun bankir Barat uang mencekik ekonomi Polandia dengan keserakahannya atas suku bunga, kita hanya bisa mengirimkan satu paket fotocopyan dokumen-dokumen dengan staples padahal yang diperlukan adalah bergerbong-gerbong kereta propaganda.”

Kata-kata ini—dan semua peristiwa yang dirangkum di pamflet ini merupakan suatu dorongan bagi kita untuk membangun suatu organisasi revolusioner disini dan saat ini pula. Tidak peduli betapa tidak kondusifnya keadaan yang tempak berlaku, sudah merupakan tugas mendesak dan kepentingan vital bagi kita untuk bersiap di waktu berikutnya buruh berlabuh di atas perjuangannya yang hebat.

JAJAK PENDAPAT BUMI RAKYAT

Krisis Kapitalisme/Imperialisme semakin memperparah penindasan terhadap rakyat. KELAS BURUH semakin diperas kapitalis terutama dengan politik upah murah melalui Labor Market Flexibility (Fleksibilitas Pasar Buruh). Ini menyebabkan sistem kerja kontrak dan outsourcing merajalela. Buruh bisa dibayar semurah-murahnya dan bisa dipecat sewaktu-waktu.

KAUM TANI juga semakin ditindas. Perampasan tanah dan penembakan terhadap kaum tani terjadi dimana-mana. Sebab di bawah krisis kapitalisme/imperialisme, kaum kapitalis agraria maupun kaum feodal berupa tuan tanah tradisional semakin menggencarkan penindasannya. Penindasan ini dijalankan baik tuan tanah tradisional maupun tuan tanah modern berupa perusahaan-perusahaan perkebunan.

Sedangkan PEMUDA-MAHASISWA juga kian disudutkan oleh praktek komersialisasi pendidikan dimana pendidikan semakin mahal namun semakin tidak bermutu. Komersialisasi pendidikan yang disebabkan perjanjian asing menyebabkan pendidikan berwatak 1) Nalar anti nalar, 2) Diskriminatif, dan 3) Anti-rakyat.

Tidak hanya terhadap Kelas Buruh, Kaum Tani, dan pemuda-mahasiswa, penindasan juga makin gencar dirasakan KAUM MISKIN KOTA. Penggusuran terhadap pedagang pasar dan pedagang kaki lima marak dimana-mana. Sedangkan pedagang warung dan toko kelontong semakin bangkrut karena minimarket yang merambah kota hingga desa.

Sudah semakin tampak musuh-musuh rakyat saat ini.

1. IMPERIALISME sebagai tahapan tertinggi KAPITALISME yang mewujudkan penjajahan terhadap Indonesia melalui penguasaan aset-aset kita, jeratan hutang, dan penghisapan modal asing.

2. KAPITALISME, KAPITALISME BIROKRASI, DAN BORJUASI KOMPRADOR Persekutuan Trisula antara kapitalis yang menumpuk keuntungan melalui penguasaannya terhadap birokrasi di semua tingkat pemerintahan yang didanai Kapitalis untuk melanggengkan agenda eksplotasinya dengan Kapitalis yang berkolaborasi dengan Imperialisme untuk menghisap rakyat.

3. FEODALISME – Kalangan tuan tanah yang memainkan peran monopoli tanah yang menindas dan menghisap kaum tani.

*ditulis oleh Sandra Bloodworth sebagai bab IX dari pamflet “Workers Revolutions of The 20th Century – A Socialist Alternative Pamphlet. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dipublikasikan ulang melalui Bumi Rakyat, bumirakyat.wordpress.com.

Advertisements

PSM Makassar

 

clip_image002

Persatuan Sepak bola Makassar (disingkat PSM Makassar) adalah sebuah tim sepak bola Indonesia yang berbasis di Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia. PSM Makassar saat ini bermain di Liga Super Indonesia, setelah sebelumnya pernah bermain di Liga Primer Indonesia. PSM Makassar merupakan salah satu tim terkuat di Indonesia dan telah mewakili Indonesia dalam Liga Champions Asia dua kali. PSM Makasar merupakan tim dengan catatan prestasi paling stabil di pentas Liga Indonesia, dengan sekali menjadi juara, empat kali runner up, dan hanya sekali gagal masuk putaran final. PSM Makassar adalah tim tertua di Indonesia. Pada tahun 2014, PSM Makassar kembali ke Liga Super Indonesia setelah lolos play-off unifikasi liga PSSI.

Sejarah

Persatuan Sepakbola Makassar atau lebih populer dengan sebutan PSM Makassar, adalah sebuah tim sepakbola Indonesia yang berbasis di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Tim berjuluk Juku Eja yang juga biasa dijuluki Ayam Jantan dari Timurmerupakan salah satu tim terkuat di pentas sepakbola nasional.Kisah terbentuknya PSM Makasar dimulai pada 2 November 1915 yang dinyatakan sebagai berdirinya sebuah perkumpulan sepakbola bernama Makassar Voetbal Bond [MVB] yang di kemudian tercatat sebagai embrio PSM. Dalam perjalanannya, MVB menampilkan putra-putra pribumi di jajaran elite persepakbolaan Hindia Belanda, seperti Sagi dan Sangkala sebagai pemain andal dan cukup disegani.Pada masa itu, sekitar 1926-1940, MVB sudah melakukan pertandingan dengan beberapa kesebelasan dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya dari Jawa, seperti Quick, Excelcior, HBS, sejumlah klub dari Sumatera, Borneo, dan Bali. Sedang dari luar negeri kesebelasan dari Hongkong dan Australia. Pendek kata, MVB langsung melejit sebagai klub ternama.Sayang pada usianya yang ke-25, kegiatan MVB mulai surut seiring dengan kedatangan pasukan Jepang di Makassar. Itu karena orang-orang Belanda yang tergabung dalam MVB ditangkap, sedangkan pemain-pemain pribumi dijadikan Romusa [pekerja paksa]. Sebagiannya lagi dikirim ke Burma [kini Myanmar]. MVB praktis lumpuh total, sebagaimana klub-klub sepakbola di Indonesia kala itu.Apalagi Jepang menerapkan aturan segala yang berbau Belanda harus dimusnahkan. Tak terkecuali itu adalah klub sepakbola. Sebaliknya, untuk mencari dukungan penduduk setempat, Jepang membiarkan masyarakat menggunakan nama-nama Indonesia. MVB pun berubah menjadi Persatuan Sepakbola Makassar [PSM].Pada dekade 1950, PSM mulai melakukan ekspansi ke Pulau Jawa untuk menjalin hubungan dengan PSSI. Bintang-bintang PSM pun bermunculan. Salah satunya yang paling fenomenal tentunya adalah Ramang. Bahkan kehebatan Ramang yang menjadi ikon PSM dan tercatat dalam sejarah sepakbola nasional sebagai legenda itu tetap dikenang hingga saat ini. Mungkin itu pula yang membuat tim ini terkadang dijuluki Pasukan Ramang.PSM pertama kali menjadi juara perserikatan pada 1957 dengan mengalahkan PSMS Medan di partai final yang digelar di Medan. Sejak saat itu PSM menjadi kekuatan baru di jagad sepakbola Indonesia. Lima kali gelar juara perserikatan mereka raih serta beberapa kali runner-up.Di era sepakbola profesional, tim ini pernah mencatat prestasi mengesankan dengan menjadi The Dream Team ketika mengumpulkan sejumlah pilar tim nasional seperti Hendro Kartiko, Bima Sakti, Aji Santoso, Miro Baldo Bento, Kurniawan Dwi Julianto, yang dikombinasikan dengan pemain asli Makasar seperti Ronny Ririn, Syamsudin Batola, Yusrifar Djafar, dan Rachman Usman, ditambah Carlos de Mello, dan Yosep Lewono. Hebatnya, PSM kala itu hanya dua kali menelan kekalahan dari 31 pertandingan yang mereka mainkan.

Kisah sejarah PSM Makasar dimulai pada tanggal 2 November 1915 yang dinyatakan sebagai berdirinya sebuah perkumpulan sepak bola bernama Makassar Voetbal Bond (MVB) yang di kemudian hari tercatat sebagai embrio Persatuan Sepak bola Makassar (PSM). Dalam perjalanan prestasinya, MVB menampilkan orang-orang bumi putera di jajaran elite persepak bolaan Hindia Belanda seperti Sagi dan Sangkala sebagai pemain andal sekaligus promotor yang disegani kalangan Belanda. Pada masa itu, sekitar tahun 1926-1940, MVB sudah melakukan pertandingan dengan beberapa kesebelasan dari dalam negeri dan luar negeri, di antaranya dari Jawa, seperti Quick, Excelcior, HBS, sejumlah klub dari Sumatera, Borneo, dan Bali. Sedang dari luar negeri kesebelasan dari Hongkong dan Australia.

Pada usianya ke-25, kegiatan MVB mulai surut seiring dengan kedatangan pasukan Jepang di Makassar. Orang-orang Belanda yang tergabung dalam MVB ditangkap. Pemain-pemain pribumi dijadikan Romusa, dan sebagian dikirim ke Burman (kini Myanmar). MVB praktis lumpuh total, sebagaimana klub-klub sepak bola di Indonesia. Di Makassar, ketika itu segala yang berbau Belanda mutlak dilenyapkan, sebaliknya untuk mencari dukungan penduduk, Jepang membiarkan masyarakat menggunakan nama-nama Indonesia. Dan MVB pun berubah menjadi Persatuan Sepak bola Makassar (PSM).

Saat Indonesia terlepas dari penjajahan, Persatuan Sepak bola Makassar (PSM) mengadakan reorganisasi dan reformasi di bawah pimpinan Achmad Saggaf yang terpilih menjadi sebagai Ketua PSM. Meskipun sederhana, roda kompetisi PSM mulai bergulir dengan baik dan teratur. Udara kemerdekaan ikut memberi napas baru bagi PSM. Tahun 1950, PSM mulai mengadakan ekspansi ke Pulau Jawa untuk menjalin hubungan dengan PSSI. Bintang-bintang PSM pun bermunculan. Dan yang paling fenonemal adalah Ramang. Bahkan, kehebatan Ramang yang menjadi ikon PSM hingga kini masih jadi legenda dan tercatat indah dalam sejarah persepakbolaan nasional. Roh dan semangat Ramang pula yang tetap ada dan hidup di tubuh PSM dan membuat kesebelasan ini sempat dijuluki Pasukan Ramang.

PSM pertama kali menjadi juara perserikatan tahun 1957 dengan mengalahkan PSMS Medan pada partai final yang digelar di Medan. Sejak itu PSM yang dijuluki menjadi kekuatan baru sepak bola Indonesia. PSM menjelma menjadi tim elite. Total lima kali gelar juara perserikatan diraih tim yang lebih sering disebut sebagai Juku Eja atau Ikan Merah, julukan yang diberikan berdasar pada warna kostum yang mereka kenakan. PSM meraih juara perserikatan pada tahun 1959, 1965, 1966, dan 1992.

Ketika tim-tim perserikatan digabung dengan tim-tim galatama menjadi Liga Indonesia sejak tahun 1994, PSM selalu masuk jajaran papan atas hingga sekarang. Setiap musim, PSM selalu diperhitungkan dan menjadi salah satu tim dengan prestasi paling stabil di Liga Indonesia. Meski demikian, baru sekali klub ini menjadi juara yakni pada Liga Indonesia tahun 2000, dan selebihnya empat kali menjadi tim peringkat dua pada Liga Indonesia 1995/1996, 2001, 2003, dan 2004.

Saat juara Liga Indonesia PSM mencatat prestasi mengesankan dengan hanya menderita 2 kali kekalahan dari total 31 pertandingan. Saat itu PSM mengumpulkan pilar-pilar tim nasional seperti Hendro Kartiko, Bima Sakti, Aji Santotal tosa, Miro Baldo Bento, Kurniawan yang dikombinasikan dengan pemain asli Makasar seperti Ronny Ririn, Syamsudin Batola, Yusrifar Djafar, dan Rachman Usman, ditambah Carlos de Mello, dan Yosep Lewono. PSM merajai pentas Liga Indonesia dengan menjuarai Wilayah Timur, dan di babak 8 besar menjuarai Grup Timur. Di semifinal, PSM mematahkan perlawanan Persija Jakarta, sebelum mengatasi perlawanan gigih Pupuk Kaltim di final yang berkesudahan 3-2.

Salah satu yang menjadi ciri PSM hingga selalu menjadi tim papan atas adalah permainan keras dan cepat yang diperagakan pemainnya, dan dipadu dengan teknik tinggi. Tak hanya itu, pemain PSM juga terkenal tangguh dan tidak cengeng dalam kondisi lapangan apa pun. PSM juga didukung oleh regenerasi yang kontinyu dan melahirkan pemain-pemain andalan di tim nasional. Tak hanya itu, kiprah para pemain di lapangan juga didukung oleh deretan pengusaha asal Sulawesi Selatan yang bergantian mengurusi managemen PSM.

PSM Makassar yang juga dijuluki Ayam Jantan Dari Timur memiliki sekitar 24 kelompok suporter, diantaranya adalah The Macz Man, Mappanyuki, Ikatan Suporter Makasar (ISM), Suporter Hasanuddin, Suporter Dealos, Suporter Reformasi, Komando, Suporter Bias, Suporter Kubis, Karebosi, Gunung Lokong, Suporter PKC (Pannampu, Kalumpang, dan Cumi-cumi, Red Gank (Pattene),KVS,Zaiger,Antang Communitty.

Pada Desember 2010, PSM Makassar memutuskan untuk mengundurkan diri dari Liga Indonesia. PSM kemudian memutuskan untuk bergabung ke Liga Primer Indonesia dengan melakukan merger dengan Makassar City FC yang sudah lebih dulu menjadi anggota LPI. Nama yang kemudian dipergunakan adalah PS Makassar (tetap disebut sebagai PSM Makassar dalam berbagai pemberitaan).

“KEMBALI BERSATU”

“COMING SOON” update terbaru tgl 25 april GIGS “KEMBALI BERSATU” akan di selenggarakan.. (FEATURING) : ultraska, the runout,konflik, spikeweed, overload,rejected kids,failing forward ! (ALL GENRE) Let’s gather on 25 april and let’s share our solidarity on “KEMBALI BERSATU” (for registered) : 150k (nett) more info : Mike : (62 )856-9397-5432 riska : (62 )856-9153-2223 Edwin : 088808754393 and thanks for d’attention fellas !

kembali-bersatu-APRIL